Tamu dari Nuso Barong

Rp 159,800

In stock

Compare
Category:

“Tamu Dari NUSO BARONG

SINOPSIS

Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan bahkan sempat terjebak dihutan,maka rombongan besar keluarga Dikoro dan Wijoyo pun sampai ditempat tujuan, yakni Blitar.Mimpi Wijoyo dan Dikoro untuk hidup sebagai petani terkabul. Keduanya menyewa sawah dan kebun dan sama-sama bertani ditempat baru. Wijoyo berhasil memanen padinya, sementara Dikoro gagal karena padinya terendam lahar dingin akibat letusan gunung Kelud.
Atas saran seorang sesepuh desa (Mbah Jarot), keduanya berniat pindah ke Jember, disana pemerintah (NICA) sedang membuka beberapa desa baru, sehingga bagi yang berpartisipasi membuka lahan akan dapat tanah gratis.
Agar tidak terlambat Wijoyo dan keluarganya segera berangkat, namun Dikoro harus bertahan dulu di Biltar, dia ingin mencapai target 2 kali panen padi dan 3 kali panen kelapa, agar modalnya untuk sewa tanah kembali, untuk bekal ke Jember.
Setahun setelah keberangkatan keluarga Wijoyo, keluarga Dikoro pun menyusul. Atas kebaikan Wijoyo, maka lahan yang diperolehnya dari pemerintah dia bagi dengan adiknya (Dikoro). Wijoyo mengelola tanah yang ada didesa Tembok, sementara keluarga Dikoro menempati dan mengelola yang di Bago.
Kedua keluarga kakak-beradik ini hidup rukun, mereka tenteram-bahagia karena telah memiliki lahan sendiri yang luas dan subur. Tiga tahun setelah tinggal di Jember, Wijoyo menyampaikan keinginannya kepada Dikoro untuk menjodohkan putranya (Sowinangun) dengan putri Dikoro (Dikem). Beberapa bulan setelah lamaran, pernikahanpun dilangsungkan.
Sowinangun lantas membangun rumah disebelah timur rumah Dikoro, lalu ia tempati rumah baru itu dengan istrinya. Pasangan muda itu hidup rukun – bahagia, dan untuk sumber pendapatan tambahan dan untuk kesenangan, Sowinangun membangun kandang kambing disisi belakang rumahnya. Setelah kandang itu rampung, ia isi dengan 20 ekor kambing Etawah yang tubuhnya besar-besar dan gemuk. Sowinangun dan Dikem terhibur dengan keberadaan kambing tersebut.
Malam hari yang biasanya sepi, berubah jadi ramai dengan embekkan suara kambing. Keduanya tak menyangka bahwa keberadaan kambing tersebut mengundang bahaya besar yang menakutkan.
Ditengah malam, Sowinangun dan Dikem terbangun oleh suara auman yang besar. Lewatlubang pintu dapur, Sowinangun menyaksikan seekor harimau besar masuk ke kandang kambing dan membantai kambing-kambing tersebut. Sowinangun hendak keluar, tapi dicegah oleh Dikem.
Pada malam kedua, serangan harimau itu makin brutal, Sowinangun tidak bisa lagi dicegah, ia keluar rumah sambil membawa tombak dan menghunus pedang. Sampai didepan kandang suasana hening, harimau itu tidak ada disitu, karena mengejar kambing-kambing yang lari dari kandang.
Sejenak kemudian, Sowinangun melihat dari jauh si Loreng berjalan menuju kandang kambing. Dalam jarak beberapa meter,ia lemparkan tombak ke arah tubuh harimau, tapi meleset. Harimau itu mendekati Sowinangun, Sowinangun pun meloncat dan memanjat pohon rambutan. Dia berhasil duduk di atas cabang pohon yang pertama, dan tangannya berpegangan pada cabang yang tumbuh tegak ke atas didepannya.
Didapur Dikem gelisah karena tidak bisa melihat Sowinangun,ia berteriak-teriak memanggil suaminya, namun tidak ada jawaban. Dikem cemas,lalu ia berniat keluar,namun saat palang pintu ditarik, bunyinya terdengar oleh harimau itu, maka hewan itu segera lari dan berdiri didepan pintu. Dari atas pohon, Sowinangun berteriak-teriak untuk melarang Dikem keluar, tapi tidak digubris.
Begitu pintu dibuka dan Dikem melangkah keluar, ia terkejut karena didepannya ada seekor harimau besar telah berdiri dan siap menerkamnya. Dikem tak berdaya, ia terduduk lemas, kepalanya menunduk pasrah. Begitu harimau itu bersiap menerkamnya, sebuah tombak melayang menyenggol dipunggung harimau itu. Harimau itu mengaum dan lari masuk ke semak belukar.
Setelah sadar dirinya lolos dari terkaman harimau, Dikem mendongakkan kepalanya. Ia terhenyak didepannya berdiri seorang laki-laki berambut putih yang pangjang, dengan berpakaian lusuh dan sekujur tubuhnya penuh luka. Sowinangun turun dari pohon, merangkul Dikem, lalu menyalami lelaki itu.
Lelaki itu bernama Ki Renggo, dan dengan kakinya yang pincang, dituntun oleh Sowinangun untuk masuk ke dapur.Beberapahari kemudian Ki Renggo memperkenalkan dirinya kepada keluarga Dikoro.Iamengaku murid Kyai Mojo, saat masih remaja, saat terjadi – perang diponegoro, ia membantu Sentot Prowirodijo yang pro Diponegoro untuk menyembunyikan senjata-senjata bantuan dari kesultanan Turki.
Sekitar 50 tahun pasca perang Diponegoro, Ki Renggotertangkap NICA saat kepergok menggali tempat persembunyian senjata di Bantul, lantas dibuang ke Nuso Barong. Sejak zaman Majapahit, Nuso Barong merupakan tempat pembuangan narapidana berbahaya, seperti pemberontak Bromocorah, dan lain-lain. Biasanya narapidana di pulau itu hanya bertahan beberapa hari, lalu pulang tinggal nama, karena ditelan oleh Sanca Raksasa atau dikoyak-koyak Harimau , yang banyak menghuni pulau itu.
Ki Renggo mampu bertahan beberapa minggu di Nuso Barong karena bersahabatdengan Kebo Biru – Pimpinan Bromocorah yang tahu cara menjauhi harimau. Harimau akan menjauhi Pohon Wijaya Kusuma yang banyak tumbuh disudut selatan-barat pulau itu. Kebo Biru tinggal di gubug sederhana yang sekelilingnya ditanami Pohon Wijaya Kusuma. Ki Renggo juga numpang tidur disitu dan tiap hari membantu menanam Pohon Wijaya Kusuma.
Suatu hari Kebo Biru termenung-lesu, mendapat berita istrinya melahirkan. Ia terbayang terus wajah istri dan anaknya, sehingga ia memutuskan keluar dari Nuso Barong. Malam hari, diam-diam ia keluar dari gubug lalu menuruni bukit menuju pantai. Saat berada dibawah bukit tiba-tiba tubuhnya terlilit sebuah tali besar.
Ia kaget dan sebelum bisa berfikir panjang, tubuhnya tetarik kembali ke atas bukit. Sampai di atas bukit ia baru sadar, bahwa yang melilit tubuhnya adalah seekor Sanca raksasa. Perlahan ia cabut pedang dari sarungnya yang terselip di pinggangnya. Pedang tajam itu ia tusukkan ke tubuh ular, dengan sekuat tenaga ia sayatkan pedang itu ke tubuh ular. Ular itu meronta dan melonggarkan belitannya, dan tersembur darah dari tubuhnya.
Amis darah, mengundang seekor harimau besar datang ke tempat itu. Harimau itu meloncat menerkam tubuh ular, secepat kilat, Kebo Biru meloloskan diri dari belitan ular, lalu berjalan turun ke pantai. Diatas bukit, terjadi pertempuran seru antara Harimau dan Ular. Tapi Ular itu akhirnya mati digigit harimau.
Kebo Biru segera mencari benda-benda yang bisa dipergunakan untuk menyeberang. Dua buah balok kayu ia ikat dengan seutas kulit bambu,lalu ia bawa ke bibir pantai, saat itu harimau berjalan menuruni bukit. Kebo Biru duduk diatas duabalok dan mendayungnya dengan dua batang bambu, dan mendorongnya ke tengah laut.
Kebo Biru lolos dari sergapan harimau, namun ombak besar menerjangnya, dan membuat tali pengikat balok lepas.KeboBiru nekat berenang menuju Jawa, tapi gelombang besar menggulungnya, sehingga tubuhnya tenggelam. Paginya para nelayan menemukan tubuh Kebo Biru terbujur kaku di pantai Cemara.
Mendengar kematian Kebo Biru, Ki Renggo amat sedih. Ditengah kesepian, ia selalu terbayang wajah istri dan anaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari pulau maut. Belajar dari tragedi Kebo Biru sehari sebelum menyeberang, Ki Renggo mempersiapkan rakit yang terbuat dari potongan batang bambu.Agar aman dari gangguanharimau, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan ranting dan daun Wijaya Kusuma yang ia ikat pada kepala, lehet, badan, tangan, dan kakinya.
Besok siang harinya, ia menuruni bukit. Sesampainya di pantai, ia lepaskan tali penambat rakitnya, lalu dengan 2 batang bambu ia dayung rakitnya ke tengah laut. Baru beberapa meter rakit itu meluncur, Ki Renggo di kagetkan oleh suara harimau, yang meloncat naik ke rakitnya.
Dalam penyeberangan Ki Renggo bertempur mati-matian dengan harimau. Tangan, kaki, dan punggungnya penuh dengan luka, terkena cakaran harimau. Sedangkan kaki dan kepala harimau bengkak terkena pukulan bambu Ki Renggo. Keduanya silih berganti tercebur ke laut dan naik ke rakit.
Tiba-tiba ombak besar menerjang rakit, tubuh harimau terhempas jauh dari rakit. Akhirnya Ki Renggo berhasil mendarat di pantai Cemara.Saat minum di warung ia mendapat info bahwa di Gumukmas (sebelah Barat Puger) tengah dibuka beberapa desa baru, dan di desa Bago banyak pendatang dari mataram (Yogya).
Malam itu, juga Ki Renggo, naik andong menuju Bago. Pada tengah malam, ia sampai dirumah Sowinangun dan mendapati seekor harimau yang tengah bersiap menerkam Dikem. Maka, tombak yang Ki Renggo Bawa, langsung dilepaskan ke tubuh harimau. Tombak itu sempat menyenggol punggung harimau. Harimau itu kaget dan berlari masuk ke semak belukar.
Mengingat kondisi Ki Renggo belum sembuh dan belum bisa berlari, sehingga belum bisa menangkap harimau itu, ia minta pada Sowinangun sementara waktu untuk membuat harimau itu menjauhi pintu rumah dan kandang kambing, caranya dengan mengambil pohon Wijaya Kusuma di Nuso Barong, lalu ditanam pada pot dan di taruh didekat pintu dan disekitar kandang kambing.
Sowinangun membentuk tim, 10 orang muda yang diketuai oleh Baljum. Setiap malam mereka dilatih oleh untuk belajar melempar tombak dan trisula, memanah dan serta diberi informasi tentang situasi di Nuso Barong.
Setelah mereka siap, maka timpun berangkat ke Nuso Barong. Mereka berhasil menemukan dan mengumpulkan bibit tanaman Wijaya Kusuma. Saat mereka menyusuri pantai, menuju tempat perahu mereka ditambatkan, mereka dihadang oleh seekor sanca raksasa. Berkat keterampilan yang mereka miliki, mereka berhasil melumpuhkan ular itu.
Tanaman itu langsung ditanam di pot dan ditaruh didekat pintu rumah dan sekitar kandang kambing. Besoknya harimau itu tidak mau lagi mendekat kandang kambing dan pintu rumah. Namun dua minggu kemudian harimau itu kembali datang mendekati kandang kambing dan pintu rumah.
Hal ini membuat Dikem ketakutan, dan Sowinangun resah.Untukitu Sowinangun meminta Baljum untuk mengumpulkan para pemuda dirumahnya. Para pemuda itupun berkumpul, bercanda ria, dan main gaple. Agar mereka betah bermain gaple, setiap malam Paikem (Pembantu Sowinangun) menyiapkan nasi soto, kue, dan kopi.
Ki Renggo kecewa menyaksikan hal itu. Ia lantas mengajak kepada para pemuda, dari pada main gaple, lebih baik shalat berjama’ah dan mengaji. Para pemuda itupun setuju, Sowinangun mengizinkan ide Ki Renggo mengajari shalat dan mengaji.
Mereka pun berlatih shalat dan mengaji dibawah bimbingan Ki Renggo. Selanjutnya mereka berkumpul sebelum magrib dan saat magrib mereka mengumandangkan adzan dengan suara keras. Menurut Baljum, suara adzan yang keras membuat harimau kaget dan lari menjauhi arah suara itu. Atas usul Baljum, Sowinangun membelikan Loudspeaker agar suara adzan lebih keras. Hal tersebut cukup menghibur Dikem, dan menghilangkan kesedihannya.
Waktu terus berlalu, hingga luka-luka Ki Renggo mengering dan tubuhnya sehat, maka Ki Renggo mengusulkan untuk menangkap harimau. Sowinangun menyiapkan 8 orang untuk membantu Ki Renggo, mulai menggali lubang jebakan, kotak perangkap, umpan, dan lain-lain.
Malam harinya, harimau itupun tertangkap dan pagi harinya datang dari Dinas Konservasi dengan membawa Zeep dan Truk yang berisi derek. Lalu harimau itu dipindah ke bak truk dengan derek, lalu dibawa oleh Dinas.
Sebelum pulang, Kepala Dinas memberi dana 50 ringgit sebagai uang tebusan kepada Sowinangun. Sowinangun senang dan lega, uang itu sebagian akan dibelikan bibit kambing, sebagian untuk membangun Mushollah untuk shalat dan ngaji para pemuda dan sebagian di berikan Ki Renggo untuk bekal pulang ke Yogya.

 

Additional information

Penerbit

Penulis

ISBN

978-623-99909-8-5

EISBN

978-623-99909-9-2

Format

14×21

Halaman

VI+206

Tahun

2023

Main Menu

Tamu dari Nuso Barong

Rp 159,800

Add to Cart