Hujan turun sejak subuh dan tak juga berhenti. Raka dan adiknya, Naya, batal berangkat sekolah. Air menggenang, angin dingin menyelinap, dan listrik sempat padam. Di tengah keterbatasan, keluarga mereka mencari cara agar tetap ceria sekaligus bermanfaat. Mereka membuat peta banjir sederhana, membantu Kakek Rahmat menyalakan radio baterai, memasak sup hangat untuk tetangga, hingga mengirim “surat botol” berisi semangat ke rumah-rumah di gang. Dari jendela yang berembun, Raka dan Naya belajar bahwa menunggu bukan berarti diam: menunggu bisa berarti menolong, berbagi, dan menjaga harapan. Saat hujan mereda, pelangi pun hadir—pertama kali di hati.
Additional information
| Penerbit | |
|---|---|
| Penulis | |
| ISBN | 978-634-7303-72-1 |
| EISBN | 978-634-7303-73-8 |
| Format | 14×20,5 |
| Halaman | VIII+50 |
| Tahun | 2026 |

