Damar ogah banget potong rambut. Baginya, kursi tinggi dan bunyi “cekrek-cekrek” gunting terdengar menakutkan. Sampai suatu hari, sekolah mengumumkan foto kelas—dan Damar sadar rambutnya sudah menutupi mata. Ayah dan Ibu tak memaksa, mereka mengajak Damar berkenalan dulu dengan tukang cukur langganan. Di sana, Damar bertemu Kak Rissa yang sabar, memperlihatkan alat-alat, dan memberi pilihan potongan yang nyaman. Pelan-pelan Damar belajar bernapas tenang, memegang kendali, dan berkata setuju. Hasilnya? Rambut rapi, hati lega, dan keberanian baru. Esoknya di sekolah, teman-teman memuji, dan Damar mengerti: mencoba hal baru tak selalu menakutkan—asal dijalani bersama orang-orang yang sayang.
Additional information
| Penerbit | |
|---|---|
| Penulis | |
| Format | 14×20,5 |
| Halaman | VIII+50 |
| Tahun | 2026 |

